Lulusan FEB Unbaja Diharapkan Bisa Buka Lapangan Pekerjaan

SERANG, (KB).- Program studi (Prodi) Manajemen Ritel Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Banten Jaya (Unbaja) diharapkan bisa mencetak lulusan yang berdaya saing serta dapat membuka lapangan pekerjaan, sehingga ke depan bisa mengurangi pengangguran.

“Kami membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola usaha ritel, mahasiswa mengetahui manajemen ritel, kemudian mereka juga harus tahu mendatangkan produk selanjutnya untuk dipasarkan, jadi ketika mereka bekerja sudah ada bekal dan mengerti,” kata Pelaksana tugas (Plt) Dekan FEB Unbaja Sukarta Atmaja, di Unbaja, Rabu (4/12/2019).

Ia mengatakan, Prodi Manajemen Ritel merupakan prodi baru yang berada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Pihaknya berharap banyak masyarakat yang tertarik untuk melanjutkan pendidikannya di bidang Manajemen Ritel.

“Prodi baru tersebut bisa mencetak lulusan yang berdaya saing serta dapat membuka lapangan pekerjaan. Pada tahun ajaran baru 2020/2021, diharapkan menargetkan mahasiswa baru sebanyak mungkin. Kami ingin mengenalkan dulu kepada masyarakat, kalau di Unbaja memiliki Prodi Kewirausahaan dan Prodi Manajemen Ritel,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Marketing Unbaja Rohaelis Nuraisiah mengatakan, pihaknya berupaya menjalin kerja sama dengan ritel di Banten. Kemudian untuk Prodi Administrasi Kesehatan mencoba menjali kerja sama dengan klinik dan rumah sakit yang ada di Banten.

“Lulusan Administrasi Kesehatan itu nantinya akan bekerja di rumah sakit. Selain itu, diharapkan dengan adanya prodi baru dapat menambah calon mahasiswa yang mendaftar di Unbaja. Kami ingin memfasilitasi kepada anak milenial yang berpikir ingin menjadi pengusaha nantinya,” ucapnya.

Wakil Rektor Bidang Akademik Unbaja Sutanto mengatakan, pendirian FEB dengan dua Prodi Kewirausahaan dan Prodi Manajemen Ritel tersebut berdasarkan surat keputusan Kementerian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) belum lama ini. Hal itu untuk mendukung mahasiswa agar menjadi entrepreneur.

“Kurikulum kami mengikuti Pendidikan Tinggi (Dikti) kemudian mengikuti acuan lima perguruan tinggi yang memiliki Prodi Manajemen Ritel dan Kewirausahaan. Tantangan paling berat itu mengubah mainset masyarakat untuk berpikir kreatif, mandiri tidak berpikir untuk menjadi pegawai tetapi menjadi pengusaha,” katanya. (DE/SJ)*

Related posts